Di era modern ini, pelestarian budaya lokal seringkali dihadapkan pada tantangan inovasi agar tetap relevan. Namun, tantangan ini berhasil dijawab dengan gemilang oleh Riduan, seorang seniman sekaligus pemilik jenama lokal asal Banjarmasin, "Sasirangan Duan". Melalui sebuah sesi siniar berdurasi sekitar 40 menit di kanal YouTube Kesultanan Banjar yang bertajuk "SASIRANGAN DUAN, SASIRANGANNYA PEJABAT NEGARA", Riduan membagikan kisah inspiratifnya. Ia membeberkan bagaimana sehelai kain tradisional Kalimantan Selatan, yakni Sasirangan, mampu diangkat nilai jual dan citranya hingga menjadi langganan tetap serta barang koleksi para pejabat negara.
Filosofi Eksklusivitas: Mengapa Diminati Pejabat?
Salah satu daya tarik utama dari Sasirangan Duan adalah filosofi eksklusivitas yang ditawarkannya secara konsisten. Karya-karya Riduan sangat diminati oleh kalangan elit karena mengusung konsep Limited Edition (edisi terbatas). Berbeda dengan kain sasirangan hasil cetak pabrik atau produksi massal di pasaran, Sasirangan Duan berfokus pada pembuatan kain bermotif premium yang murni hanya dibuat satu per lembar.
Lebih dari itu, Riduan juga menerapkan prinsip Private Collection. Motif yang dirancang khusus untuk seorang pemesan dijamin kerahasiaannya dan tidak akan diduplikasi untuk orang lain. Kepastian bahwa tidak ada orang lain yang menyamai pakaian mereka inilah yang memberikan rasa kebanggaan (prestige) tersendiri bagi pemakainya, terutama di kalangan pejabat negara.
Merawat Akar Sejarah dan Makna Filosofis
Meski telah bertransformasi menjadi barang bernilai tinggi, Sasirangan Duan tidak pernah melepaskan akar sejarahnya. Mengingat tayangan ini disiarkan oleh Kesultanan Banjar, aspek sejarah masa lampau turut dikupas tuntas. Sasirangan sejatinya memiliki akar sejarah yang kuat, bermula dari legenda Patih Lambung Mangkurat, di mana pada masa itu kain ini digunakan sebagai benda sakral atau magis untuk medium penyembuhan penyakit (tatamba).
Untuk menjaga ruh tradisional tersebut, Riduan menceritakan bahwa ia masih merancang motif-motifnya secara manual. Ia menggoreskan pola langsung menggunakan tangan di atas selembar kain putih tanpa bantuan mesin cetak. Setiap goresan motif yang dihasilkan memiliki makna filosofis khas Banjar yang mendalam. Sebagai contoh, motif "Gagatas" (belah ketupat) yang melambangkan kecantikan atau bungas, serta motif "Gigi Haruan" (ikan gabus) yang merepresentasikan ketajaman dalam berpikir penggunanya.
Transformasi Fesyen ke Kelas Premium
Perjalanan Sasirangan di tangan Riduan adalah bukti nyata transformasi fesyen yang sukses. Dari yang semula hanya dikenal sebagai kain adat dengan pakem warna dan motif yang konvensional, kini Sasirangan mampu dipadukan dengan desain yang lebih modern. Riduan tidak ragu memberikan sentuhan tema-tema kekinian, seperti corak geometris hingga nuansa Timur Tengah, ke dalam karyanya tanpa menghilangkan identitas asli sasirangan.
Transformasi nilai estetika ini berbanding lurus dengan nilai ekonominya. Harga karya Sasirangan Duan sangat bervariasi, mulai dari yang terjangkau untuk masyarakat umum hingga menembus angka jutaan rupiah untuk kelas premium. Fakta ini membuktikan bahwa produk budaya lokal memiliki nilai ekonomi kreatif yang sangat potensial apabila digarap dengan tingkat keseriusan yang tinggi dan memiliki identitas merek yang kuat.
Semangat Pelestarian Budaya Banjar
Pada akhirnya, pesan utama dari perbincangan bersama Riduan ini bermuara pada satu hal: semangat pelestarian budaya Banjar. Meskipun saat ini kain Sasirangan telah bertransformasi menjadi pakaian bergaya modern dan kekinian yang menghiasi tubuh para petinggi negeri, ia tetaplah identitas asli Provinsi Kalimantan Selatan yang tiada duanya di tempat lain.
Keberhasilan "Sasirangan Duan" diharapkan dapat menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda, bahwa menjaga dan merawat warisan leluhur Kesultanan Banjar tidak harus dengan cara yang kuno. Pelestarian budaya bisa dilakukan selaras dengan inovasi bisnis dan penciptaan karya seni fesyen yang memiliki nilai jual tinggi di kancah nasional.
Lihat Sekarang Videonya disini
